Minggu, 27 November 2016

Dilema 1

Kala itu ntah apa yang aku pikirkan sama halnya seperti sebuah senapan angin yang ntah tak tentu arahnya yang menyebabkan aku memilih dia. Ya tuk pertama kalinya tapi bukan pertama ntah kenapa cukup dia yang kuanggap pertama aku jatuh cinta kepada seseorang yang tak ingin kulepaskan, aku pun berjuang tuk mendapatkannya memang tidak mudah tapi aku selalu yakin akan mendapatkannya dengan harapan bisa selamanya.

Hingga akhirnya aku pun bisa mendapatkannya tepat dihari yang tidak kusuka,aku ucapkan kata yang memang sudah kusimpan didalam hati sejak aku melihat dia berbeda dengan yang lain. Dengan memangil namanya dan kusuruh tunggu dia didepan papan kelas dengan maksud menungguku yang sedang berusaha menutup pintu kelas dikelilingi teman yang mungkin saat itu mendukungku.

Berani ya, kala itu kuberanikan diri untuk melakukan perbuatan walau hati mengatakan harus siap kalau hal buruk yang ku terima, memanggil namanya dan mencetuskan sebuah kata 'aku sayang kamu mau kamu jadi pacarku ?' ya mungkin itu adalah kata yang sangat dewasa jika yang membaca anak TK. Teman-temanku pun berteriak histeris dan tak melihat kalo aku sedang menunggu jawaban darinya dia menjawab cukup lama mungkin dia berfikir tapi memang  dia berfikir karena dia punya otak dan terutama jawaban dari hatinya. 30 atau 40 detik berlalu tiba tiba dia berkata 'diam rek aku mau njawab'
Lantas hatiku langsung berdegub-degub dan tak tahu aku siap mendengarkan atau tidak seperti kata" win or go home.

Dia pun menjawab enggak, dan langsung suasana hening. Namun ternyata dia selempitkan kata lagi yang belum dia baca lewat otaknya dia menambahi enggak nolak maksutnya.

Sampai disini dulu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar